Kesenian Angklung Caruk Banyuwangi


Kabupaten Banyuwangi pantas disebut kota seni, karena mempunyai banyak mahakarya seni pertunjukan yang diwariskan oleh leluhur kita, salah satunya kesenian angklung caruk. Bagi sebagian masyarakat Banyuwangi khususnya masyarakat Osing, kesenian Angklung Caruk sudah tidak asing lagi. Sekitar satu dekade yang lalu kesenian ini masih menampakkan dirinya di beberapa acara yang diselenggarakan masyarakat seperti acara perkawinan, khitanan maupun acara lain seperti perayaan hari kemerdekaan RI. Namun sekarang ini sudah sangat jarang di jumpai. Setahu saya, dilingkungan sekitar tempat tinggal saya di kecamatan Glagah yang merupakan salah satu daerah berpenduduk mayoritas Osing sudah tidak pernah lagi kesenian ini dipentaskan. Sebenarnya kesenian ini sangat unik karena mengadung unsur sportifitas antara grup satu atau “panjak” (sebutan penabuh dalam bahasa Osing) dengan grup lainnya. Sebelum berbicara lebih lanjut ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu deskripsi tentang Angklung Caruk.
Angklung Caruk merupakan salah satu dari beragam kesenian yang berkembang di Banyuwangi. Pada mulanya angklung digunakan oleh petani di sawah untuk melepas lelah disaat istirahat. Angklung diletakkan di atas sebuah pondok yang tinggi atau masyarakat menyebutnya “paglak”, sehingga disebut “angklung paglak”. Selain itu para petani juga gemar mengguunakan angklung di saat memanen sawah mereka sebagai iringan musik. Uniknya zaman dahulu seorang petani yang memanen sawah memiliki tradisi “ngersoyo” ( gotong royong), pemilik sawah yang memanen sawahnya dibantu para kerabat dan tetangga sehingga si pemilik sawah memberikan sebuah hiburan kepada orang-orang yang telah membantunya di sawahnya dengan angklung yang diletakkan di “paglak”. Biasanya penabuhnya hanya terdiri dari 2 sampai 3 orang saja. Instrumennya terdiri dari 1 angklung (yang mirip dengan angklung di Bali) dan gendang berukuran kecil. Sembari menabuh angklung penabuhnya juga menyanyikan gending-gending khas Banyuwangi. Dari sinilah angklung caruk terbentuk.
Mengapa disebut agklung caruk?
“Caruk” merupakan bahasa Osing yang berarti “temu” atau  “bertemu”, sehingga angklung caruk mempunyai pengertian dua kelompok kesenian angklung yang dipertemukan dalam satu panggung. Dua kelompok kesenian ini  saling beradu ketangkasan dalam memainkan angklung. Pada sesi pertama pertunjukan angklung caruk diawali dengan “larasan” yaitu pertunjukan tari yang dibawakan oleh seorang laki-laki dari masing-masing kelompok yang disebut “badut”. Mereka bargantian menari sesuai dengan kesepakatan. Kemudian di sesi selanjutnya “adol gending” yaitu misalnya kelompok A memberikan aba-aba berupa ketukan sebuah lagu Banyuwangian yang ditujukan kepada kelompok B, dan jika kelompok B tahu ketukan tersebut maka dilanjutkan ketukan tersebut hingga membetuk sebuah iringan musik dan apabila kelompok B tidak bisa atau salah ditengah perjalanan maka kelompok A mengoloknya begitu sebaliknya. Walaupun terjadi “padu-paduan” (olokan dan ejekan). Uniknya kedua kelompok dan pendukungnya saling menjaga sportifitas dan kerukunan.
Namun sungguh sangat disayangkan, di era globalisasi ini sangat jarang bahkan tidak pernah kesenian angklung caruk menampakan diri. Sekarang masyarakat Osing lebih cenderung menyukai musik dangdut koploan.  Oleh karena itu hal ini merupakan tantangan bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya Banyuwangi untuk berupaya sedemikian rupa mencegah semakin tenggelamnya kesenian tradisional tersebut. Didalam upayanya mengangkat kembali kesenian tradisional tersebut banyak ditemui berbagai macam kendala yang harus dipecahkan demi kelangsungan diri kesenian Angklung Caruk tersebut. Setelah kendala dapat dipecahkan kita dapat melakukan upaya-upaya lainnya yang ikut menunjang keberadaan Angklung Caruk di dalam tujuannya untuk diangkat menjadi salah satu obyek wisata budaya terbaik Jawa Timur. Upaya-upaya tersebut meliputi pembenahan-pembenahan baik ke dalam yaitu kesenian Angklung Caruk itu sendiri maupun ke luar yaitu pihak-pihak dan hal-hal yang bersangkutan dengan kemajuan kesenian itu sendiri. Adapun pembenahan ke dalam yang dilakukan antara lain pembenahan sarana dan prasarana, pembinaan mental para pemain, pembinaan masyarakat, dan lainnya sedangkan pembenahan ke luar dapat berupa promosi. Sehingga melalui usaha-usaha tersebut diharapkan kesenian tersebut dapat berkembang dan diangkat kembali untuk dijadikan sebagai obyek wisata yang menarik dan berpotensial sehingga selain dapat menarik minat para wisatawan yang berkunjung juga dapat menunjang kepariwisataan Jawa Timur khususnya Banyuwangi baik dimasa kini maupun di masa yang akan datang.

ditulis oleh : Hasan & Dewi dalam Blog Pribadinya
Photo Oleh : Pemkab Banyuwangi

0 Comments:

Poskan Komentar